Oleh: yanto21 | 14,April,2009

MEMOTRET BURUNG DI ALAM BEBAS

13_rangkong-1Warna-warni bulunya senantiasa menebar pesona. Itulah satwa burung. Bagi kalangan fotografer alam bebas, memotret satwa burung adalah suatu kesenangan tersendiri. Bisa juga sebagai pekerjaan yang menantang. Pasalnya, subjeknya bergerak. Bukan seperti memotret burung di dalam sangkar.

Memotret burung erat hubungannya dengan pemotretan satwa alam bebas (wildlife photography). Sehingga teknik yang digunakan tidak berbeda dengan memotret satwa lain. Memotret burung, berarti memotret di alam bebas. Dengan begitu, sudah barang tentu seorang fotografer harus melengkapi dirinya dengan perangkat fotografi pendukung. Apa sajakah?

Pemotretan burung perlu lensa tele dengan titik fokal 300mm, 400mm atau bahkan 600mm. Syukur-syukur bisa lebih panjang lagi. Selain lensa tele tentu diperlukan juga penggunaan tripod atau monopod, agar lensa kamera bisa diarahkan dengan mantap ke arah burung yang dibidik.

Umumnya fotografer alam bebas juga membawa lebih dari satu bodi kamera saat berburu. Selain untuk cadangan juga untuk mengurangi frekuensi penukaran lensa atau film. Namun sekarang ini kita tidak perlu bersusah-susah lagi seperti itu, sebab sudah ada kamera digital. Dengan kamera jenis ini masalah menyimpan gambar di kamera sudah tidak masalah lagi seperti halnya pada kamera film. Kamera format medium hanya untuk memotret pemandangan atau makro. Jarang mengambil wildlife dengan kamera medium format, karena perlu memakai lensa dua kali lebih panjang. Untuk reaksi cepat lebih baik dengan kamera 35 mm saja.

Beberapa peralatan khusus sering diperlukan juga untuk pemotretan wildfile. Seperti misalnya tenda penyamaran, jebakan pelepas rana, remote control atau sensor inframerah yang selalu dipakai fotografer luar negeri. Repotnya peralatan fotografi khusus alam bebas tidak tersedia di pasaran Indonesia. Meski punya banyak uang sekalipun belum tentu kita bisa membelinya. Makanya sering juga harus merekayasa alat sendiri, yang kadang perlu biaya dan konsentrasi lebih banyak. Kalau harus beli di luar negeri tentu sudah lain lagi ceritanya.

Sensitif Warna

Satwa burung ternyata sensitif terhadap warna. Karena itu pakaian juga harus diperhatikan. Jangan mengenakan baju yang berwarna meriah atau menyala. Pakailah stelan kecoklatan, hijau atau seperti Alain Compost yang selalu berhitam-hitam. Satwa terutama mamalia amat mudah terusik ketenteramannya. Termasuk juga oleh warna-warni yang mengganggu. Jadi kalau mau masuk hutan pakailah stelan yang cocok, seperti warna cokelat, hijau atau hitam. Janganlah pakai yang mencolok.

Untungnya burung tidaklah sepeka hewan mamalia. Umumnya mamalia macam badak atau harimau misalnya, amat mudah mendeteksi kehadiran manusia. Sehingga jarang dan sulit sekali untuk dijumpai. Sedangkan burung masih terhitung mudah terlihat atau diamati lewat lensa.

Cinta Alam

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memotret satwa termasuk juga burung adalah rasa cinta alam. Jadi fotografer perlu juga mencintai dan mengenali peri kehidupan unggas tersebut. Untuk itu ada baiknya jika fotografer menyempatkan diri melakukan observasi dan mengumpulkan informasi yang lengkap. Informasi itu bisa dikumpulkan dari penduduk setempat, membaca literatur atau menghubungi peneliti. Kumpulkan selengkap mungkin data tentang waktu, musim, jenis satwa, lokasi pemunculan satwa, dan kebiasaan satwa tersebut. Dari sana bisa disusun strategi pemotretan seperti peralatan, kepekaan film atau aksesori tambahan yang diperlukan.

Dengan data lengkap fotografer tidak kerepotan menggunakan peralatan. Karena biasanya fotografer tidak membawa semua peralatannya ke lokasi pemotretan. Hanya yang perlu saja dibawa sementara lainnya seperti batu baterai, tas kamera dan sebagiannya akan tinggal di basecamp. Informasi tentang burung itu sendiri juga perlu dikumpulkan selengkap mungkin. Terutama kebiasaan dan perilakunya seperti dari suara, makanan bahkan sangkarnya.

Setiap jenis burung punya perilaku dan kebiasaan yang berbeda sehingga amat menarik untuk diamati. Misalnya burung cendrawasih yang selalu berganti bulu secara teratur. Biasanya bulan Desember atau Januari mereka akan ganti bulu. Jadi kalau mau merekam keindahan warna bulu cendrawasih jangan ke Irian pada bulan Januari, karena biasanya bulu mereka belum nampak sempurna.

Faktor Cuaca

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kendala yang mungkin muncul pada saat pemotretan. Karena pemotretan dilakukan di luar ruang maka kendala yang mungkin dihadapi adalah tabiat alam itu sendiri. Faktor alam terutama cuaca amat menentukan pada pemotretan jenis ini.

Hasil maksimal pada pemotretan ini juga bergantung penuh pada waktu. Untuk hasil yang prima biasanya perlu waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Waktu yang panjang juga perlu penanganan tersendiri untuk mengatasinya. Agar kejenuhan senantiasa terhindari dan konsentrasi tetaplah prima.

Kendala lainnya adalah satwa itu sendiri sudah mulai punah, karena habitat mereka sudah dirusak manusia yang pada akhirnya sulit untuk menemukan burung itu, apalagi ingin memotretnya. Tidak heran jika pemotretan satwa, seperti burung tergolong sulit dilakukan pada masa sekarang ini.

Terkonsentrasi

Bagi yang ingin mengamati burung disarankan untuk pergi pagi atau sore hari. Selain cuacanya tidak terlalu panas burung pun biasanya sedang sangat aktif. Mulai dari yang berkicau, mencari makan ataupun berterbangan. Sehingga relatif lebih mudah menemukannya.

Mengamati atau memotret burung bisa dilakukan di mana saja. Tempat paling baik dan mudah tentu saja di sekitar rumah atau taman kota. Jika sudah bosan di sana, bisa datang ke pinggiran kota, kampung, tepian sungai atau tepi pantai. Paling baik jika mau ke luar masuk hutan, karena di sanalah tempat paling kaya akan burung. [Rony Simanjuntak]

http://pustakahijau.blogspot.com

Oleh: yanto21 | 14,April,2009

TIPS MEMBELI CAMERA DIGITAL

fuji_s5700_frontbackpenetrasi peralatan digital di indonesia sungguh sangat mencengangkan, sangat luar biasa. di tengah himpitan ekonomi yang semakin jauh tertinggal di antara negara asia, ternyata hal ini tidak menghalangi produsen peralatan digital untuk merangsek masuk ke pasar indonesia. peralatan digital semakin menemukan pasarnya ketika harga semakin terjangkau oleh kalangan menegah ke bawah. salah satu peralatan digital ini adalah kamera digital.

dewasa ini penggunaan kamera digital sudah hampir bisa disejajarkan dengan ponsel. semakin banyak orang yang membawa serta kamera digital kemana pun pergi. rasanya kamera digital sudah menjadi kebutuhan pokok untuk sebagian kalangan. kondisi ini diperkuat dengan semakin banyaknya produsen yang memasarkan kamera digital dengan berbagai kelas dan harga. namun dengan banyaknya kamera digital yang tersedia di pasar, masalah timbul manakala kita, yang awam dengan teknologi memilih salah satu kamera digital untuk kita beli. dibutuhkan semacam guidance atau tips dalam membeli kamera digital. tips membeli kamera digital yang aku tulis ini lebih ke pengguna awam, yang benar – benar belum mengerti apa dan bagaimana kamera digital.

1. dana

tips membeli kamera digital pertama adalah seberapa dalam anda akan merogoh kantung untuk ditukarkan dengan sebuah kamera digital? sebab bagaimanapun akhirnya pilihan anda ditentukan dengan besar duit yang musti anda bayarkan. asal anda tahu, rentang harga kamera digital amat lebar. anda bisa dapatkan sebuah kamera digital ‘hanya’ dengan harga sejutaan sampai puluhan juta rupiah. salah satu produsen lokal bahkan telah memiliki deretan produk kamera digital yang tergolong murah di kelasnya.

2. tipe kamera digital

tips kedua adalah tipe kamera. di dalam dunia fotografi digital dikenal 3 type kamera digital, yakni : pocket, prosumer, dan digital SLR (single reflex lens) atau disingkat dslr. ketiganya dimaksudkan untuk membagi kelas kamera sesuai dengan kebutuhan dan peruntukan pemakai. sebagai contoh, apabila anda bermaksud membawa serta kamera digital anda kemanapun pergi, pilihan tepat adalah model pocket. bentuknya memang seukuran kantung baju. kecil, tipis, namun tetap bisa memuat berbagai kecanggihan teknologi.

bagi anda yang membutuhkan kamera digital dengan kemampuan zoom di atas rata – rata dan memiliki kemampuan setting semi manual atau bahkan full manual, pilihan ada pada kamera digital prosumer. bentuk kamera digital ini lebih gemuk dan sedikit lebih berat dibandingkan dengan tipe pocket.

sedangkan bagi yang serius ingin mendalami fotografi digital, aku sarankan berburulah kamera dslr. kamera digital ini memiliki semua fitur yang dibutuhkan di dalam sebuah pemotretan. bahkan lensa dslr bisa diganti – ganti sesuai dengan kebutuhan. dan uniknya lensa dslr banyak yang kompatibel dengan lensa kamera manual jadul.

3. fasilitas zoom kamera digital

di dalam dunia kamera digital dikenal dua macam zooming, yakni optical zoom dan digital zoom. tipe pertama mengacu kepada kemampuan fisik lensa di dalam melakukan pembesaran citra gambar yang masuk ke dalam sensor cahaya. sedangkan digital zoom adalah kemampuan logic software pemrosesan citra gambar di dalam melakukan pembesaran gambar. optical zoom tidak akan menghasilkan gambar pecah seperti di dalam digital zoom. anda musti hati – hati karena banyak penjual, khususnya di glodok yang selalu mengatakan TOTAL nilai zoom. pilihlah kamera digital yang memiliki angka optical zoom yang terbesar (apabila memang zoom menjadi titik perhatian anda).

4. sensor dan ukuran sensor

tips membeli kamera digital selanjutnya adalah memilih sensor dan ukuran sensor. umumnya kamera digital berkategori murmer (murah meriah) menggunakan sensor CMOS. sensor ini di dalam pembuatannya lebih murah dibandingkan dengan sensor CCD. namun salah satu produsen kamera digital ternama berani menggunakan sensor CMOS untuk produk unggulan mereka. tentunya ini harus dipahami sebagai strategi berdagang mereka.

sensor CCD dikenal boros energi namun sanggup menghasilkan detil warna yang sempurna sedangkan CMOS irit namun kurang bagus di dalam menangkap warna.

secara umum, kita tidak usah dipusingkan dengan jenis sensor, anda hanya perlu tahu berapa ukuran (fisik) sensor tersebut. untuk diketahui, sensor adalah media pengganti film konvensional yang berfungsi untuk mengubah cahaya menjadi data digital. gampangnya semakin besar ukuran sensor semakin bagus gambar yang dihasilkan. ukuran paling besar sensor yang biasa disebut dengan full frame. beberapa kamera digital profesional (dslr) memiliki sensor full frame berukuran 135 alias 24mm x 36mm.

resolusi sensor, biasa dituliskan sebagai megapixel, yang merupakan hasil perkalian jumlah pixel secara horisontal dan vertikal, bukanlah satu – satunya tolok ukur sebuah kamera digital dapat dikatakan baik. seperti yang aku tuliskan di atas, yang lebih penting justru ukuran (fisik) sensor. megapixel lebih mengacu kepada berapa besar anda akan mencetak foto anda. semakin besar ukuran megapixel, semakin besar ukuran cetakan foto. sebagai perbadingan, kamera digital dengan 3.2Mpixel sudah dapat menghasilkan gambar ukuran 4R dengan sangat bagus. meskipun dalam praktiknya dapat di-expand ke ukuran 10R tanpa mengurangi kualitas secara drastis.

perbandingan antara megapixel dengan ukuran sensor yang terkecil-lah merupakan kamera digital terbaik. sayang sekali kebanyakan produsen kamera digital tidak mencantumkan dengan jelas ukuran sensor ini, terutama pada kamera tipe pocket produksi mereka. anda dapat melihat review beberapa kamera digital di internet sebelum memutuskan memilih salah satunya.

5. tips lain dalam membeli kamera digital

pilihlah kamera digital yang menggunakan memory card yang umum dijumpai di pasaran. semakin banyak produsen yang membuat semakin murah harganya.

apabila anda berniat menggunakan kamera digital untuk memotret di ruangan yang minim cahaya misal sebuah konser musik indoor, kepekaan sebuah lensa sangat diperlukan. hal ini ditunjukkan dengan semakin besar angka iso. namun semakin besar iso semakin berisiko menghasilkan gambar dengan noise tinggi. meskipun ada beberapa kamera digital profesional yang memiliki iso tinggi dan noise yang rendah, namun tentu saja harganya akan sangat mahal untuk ukuran awam/pemula.

satu hal yang tidak kalah penting adalah bateray kamera digital. pemilihan penggunaan bateray AA atau AAA pada kamera digital lebih mengarah kepada pertimbangan harga dan kemudahan didapat di pasaran. patut dicatat bahwa bateray kamera digital, pada umumnya rechargable, memiliki umur/masa manfaat yang sangat terbatas. tentu saja anda tidak mau direpotkan untuk mencari pengganti bateray kamera digital anda bila memang sudah tiba waktunya untuk diganti.

untuk calon fotografer profesional, masih banyak faktor yang harus diperhatikan di dalam membeli sebuah kamera digital. misalkan : dinamic range, white balance, speed, sampai refresh time.

silakan baca – baca link berikut ini untuk mengetahui informasi lebih dalam dari dunia fotografi digital :

http://asbindro.wordpress.com

Tulisan Sebelumnya »

Kategori